Sunday, August 31, 2014

Who am I? (Sebuah renungan akan kehidupan....)

Mungkin tak akan ada yang bertanya-tanya. Siapa sih Erick Pramusinto Sambudi itu? Seperti apa sih orangnya? Sampai detik ini aku hidup, belum pernah telingaku secara langsung mendengar pertanyaan seperti itu. Memang benar, pertanyaan seperti itu tak akan langsung ditanyakan ke orang yang bersangkutan. Namun beberapa dari kita mungkin ada yang bahkan terbiasa mendengar kalimat itu. Itu tanda bahwa ada beberapa orang yang bernasib lebih beruntung. Mereka ada di hati orang banyak! Dan ya.... aku sadar, aku bukanlah orang itu. Aku bukanlah siapa-siapa. Aku hanyalah manusia yang sedang mencari posisi di masyarakat.

Ada!! Ada terkadang harapan untuk dikenal. Ada terkadang harapan untuk dicari tahu. Ada terkadang keinginan untuk jadi orang yang berpengaruh. Tapi sering terbesit di dalam hati kecil, "buat apa sih?". "Bukannya kau dikenal sangat baik oleh Penciptamu sudah lebih dari cukup?". Itulah masalahnya! Apakah aku dikenal Penciptaku sebagai orang yang baik? Ada yang tau? Ada yang bisa jawab? Ada yang bisa menjamin? Tentu tidak ada!! Di titik ini lah manusia biasanya mencari jaminan. Dimana bagi manusia mencari jawaban termudah adalah dari sesama manusia. ANEH memang!! Pencipta kita sudah memberi jaminan-jaminan dengan syarat-syarat yang telah jelas, tersurat, bukan sekedar tersirat! Namun begitu susah bagi kami manusia untuk mentaati apa yang telah ditugaskan kepada kami!

Begitulah akal, begitulah iman! Detik ini sesuatu yang kita anggap baik, sedetik kemudian belum tentu sepakat dengan akal sedetik yang lalu. Detik ini iman seperti "aku harus jadi orang seperti ini!", sedetik kemudian merasa "untuk apa aku begini? banyak hal lain yang bisa kulakukan". Well....this is life! And this is......HEART!

Jika manusia diberi kepekaan yang sangat tinggi, hingga bisa merasakan bagaimana hati kita terbolak balik setiap jam, setiap menit, setiap detik, kujamin mungkin otak manusia akan sakit dan meledak! Tak kuat memikirkan mengapa hati manusia begitu rapuh! Tak bisa menentukan bagaimana menanggapi hati yang 'congok' ini!

"Berarti enakan jadi seperti orang-orang yang seakan gak punya hati itu ya!! Tak perlu pusing dengan kehidupan!! Mereka-mereka yang seakan hatinya sudah seperti batu yang tak terpecahkan!!"

SALAAAHHH!!!! Aku jamin, hidup mereka tak lebih tentram dari kita. Tak lebih bahagia dari kita. Otak mereka tak lebih santai dari kita. Namun hati mereka seperti daging yang dibius. Dan mereka memusatkan dinamika kehidupan mereka di otak, hanya di otak. Orang seperti ini sebenarnya mereka itu lumpuh! Karena begitu seharusnya hati mereka  merasakan sakit, mereka tak merasakannya! Yang ada nanti jika sudah tak kuat hati mereka menahan, maka tinggal matinya saja yang bisa dinanti! Analoginya begini, bayangkan bagaimana kalian diciptakan tanpa ada 'sensor sakit'? Enak? Mungkin akan ada yang nyeletuk, "enak lah! gak pake kerasa sakit!". Sadarlah! Apa yang telah diberikan Allah dalam kehidupan kita itu semuanya nikmat! Termasuk rasa sakit itu sendiri. Kalau kita mau membuka mata kita lebar-lebar, maka kita akan melihat luar biasa banyaknya faedah dan hikmah dari rasa sakit tersebut bagi kehidupan manusia.

Dari sini bisa kita simpulkan, siapa saja yang menyakiti hati orang lain tanpa merasakan perihnya di hati kita sendiri, bisa dibilang ada indikasi hati kita telah terbius. Apabila kita menyakiti hati orang lain tanpa ada bayangan dari rasa sakitnya di hati kita sendiri, maka ada indikasi hati dan otak kita sudah tidak sinkron lagi. Mengerikan! Ternyata tanpa sadar kebanyakan dari kita banyak yang pernah melakukan hal-hal tersebut. Bahkan, penulis sendiri!!

Kita manusia memang tak akan pernah luput dari salah dan dosa. Manusia adalah tempatnya dosa dan maksiat. Namun beberapa manusia bisa meminimalisirnya. Sebenarnya semua ini hanya masalah siapa yang lebih cepat sadar. Siapa yang lebih cepat sadar bahwa manusia adalah gudangnya kesalahan. Itu saja! Bahkan orang yang mati dalam keadaan dzalim pun sebenarnya mereka akan sadar juga, hanya saja tidak di alam dunia. Berikut ada sebuah syair yang bagus untuk hal ini :

Allah Ta’ala berfirman,
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ (٩٩)لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ (١٠٠)
“Hingga apabila telah  datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (Al Mukminun: 99-100)

Ibnu Katsir Rahimahullah menafsirkan,
يخبر تعالى عن حال المحتضر عند الموت، من الكافرين أو المفرطين في أمر الله تعالى، وقيلهم عند ذلك، وسؤالهم الرجعة إلى الدنيا، ليصلح ما كان أفسده في مدة حياته

“Allah Ta’ala menceritakan keadaan orang kafir dan orang-orang yang meremehkan perintah Allah Ta’ala, ucapan mereka ketika itu adalah permintaan kembali ke dunia agar memperbaiki apa yang mereka rusakkan/lalaikan selama hidup”

 Maka ada baiknya, selagi raga dan ruh kita masih menyatu, kita renungkan, apa benar amal dan dosa kita sudah lebih berat timbangan amal kita? Apa benar hati kita ini telah berada di jalur yang benar? Apa hati kita ini sudah benar-benar bersih? Sebenarnya ada bagusnya kalau kita merasa belum. Sehingga kita bisa meng-introspeksi diri kita kembali. Dan akan sempurna jika kita bisa belajar melihat kesalahan dan memperbaiki diri tiap harinya. Sebaik-baik manusia adalah yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, hari esok lebih baik dari hari ini, dan seterusnya.

Berikut ada beberapa sarana untuk membersihkan diri dari penyakit hati :

a.    Al-mujahadah (kesungguhan) dalam memperbaikinya.
Allah  berfirman, “Dan orang-orang yang bermujahadah untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69)
Abu Hafsh An-Naisaburi berkata, “Saya menjaga hatiku selama dua puluh tahun kemudian dia yang menjagaku selama dua puluh tahun.” (Nuzhah Al-Fudhala`: 1205)

b.    Banyak mengingat kematian dan hari akhirat.
Rasulullah  bersabda dalam hadits Abu Hurairah:
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ يَعْنِي الْمَوْتَ
“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan, yakni kematian” (HR. Imam Empat kecuali Abu Daud)
Dan beliau juga bersabda tentang ziarah kubur, “Karena sesungguhnya dia mengingatkan kalian kepada negeri akhirat -dalam sebagian riwayat: Kematian-.” (HR. An-Nasa`i dan Ibnu Majah juga dari Abu Hurairah)
Dan dalam Al-Qur`an dan As-Sunnah sangat banyak ayat dan hadits yang mengingatkan akan kengerian hari kiamat dan dahsyatnya api neraka.
Said bin Jubair -rahimahullah- berkata, “Seandainya mengingat kematian hilang dari hatiku niscaya saya khawatir kalau hal itu akan merusak hatiku.”

c.    Bergaul dengan orang-orang yang saleh.
Dalam hal ini Nabi  bersabda sebagaimana dalam hadits Abu Musa Al-Asy’ari :
إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً
“Perumpamaan teman duduk yang baik dengan teman duduk yang jelek adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. Adapun penjual minyak wangi, maka mungkin dia akan memberikannya kepadamu atau mungkin juga kamu akan membeli darinya atau paling tidak kamu mencium bau wangi di sekitarmu. Adapun pandai besi, maka kalau dia tidak membakar pakaianmu maka paling tidak kamu mencium bau busuk di sekitarmu”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Bahkan Allah Ta’ala telah berfirman, “Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka,” (QS. Hud: 113)

d.    Hatinya selalu terkait dengan Penciptanya dan Sembahannya.
Ini adalah jenjang ihsan yang Rasulullah telah jelaskan definisinya dalam hadits Jibril yang masyhur, “Engkau menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, dan kalau kamu tida sanggup melihat-Nya maka yakinlah kalau Dia melihatmu.” (Muttafaqun alaih)
Ibnu Al-Qayyim berkata dalam Al-Wabil Ash-Shayyib, “Sesungguhnya di dalam hati ada wahsyah (sifat liar) yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan ketenangan dalam mengingat Allah, di dalamnya ada kesedihan yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan kegembiraan mengenal-Nya, dan padanya ada kefakiran yang tidak bisa dihilangkan kecuali dengan kejujuran tawakkal kepada-Nya, yang seandainya seseorang diberikan dunia beserta segala isinya niscaya kefakiran tersebut tidak akan hilang.”

e.    Amalan saleh dengan semua bentuknya.
Allah Ta’ala berfirman, “Barang siapa yang mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan barang siapa yang berbuat jahat maka (dosanya) atas dirinya sendiri.” (QS. Fushshilat: 46)
Ibnu Abbas  berkata, “Sesungguhnya amalan baik memberikan cahaya pada hati, kecemerlangan pada wajah, kekuatan pada badan, tambahan pada rezeki, kecintaan di dalam hati-hati para hamba.”
Dan sebesar-besar bahkan landasan setiap amalan yang saleh adalah ilmu agama yang bermanfaat, dengannyalah seorang hamba mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Rasulullah bersabda dalam hadits Muawiah bin Abi Sufyan:
مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan pada dirinya maka Dia akan memberikannya pemahaman dalam agama.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

f.    Memanfaatkannya (hati) sesuai dengan tujuan penciptaannya.
Ini adalah hal yang bisa dipahami secara akal, yakni suatu benda yang dibuat untuk mengerjakan sesuatu pasti akan rusak kalau digunakan untuk selain dari tujuan pembuatannya. Dan tujuan diciptakannya hati dan akal adalah untuk mentadabburi ayat-ayat Allah yang bersifat syar’i dan kauni yang darinya akan lahir amalan-amalan sebagai tanda keimanan dia kepada Allah.
Pernah ditanyakan kepada Ummu Ad-Darda` -radhiallahu anha- tentang ibadah suaminya yang paling sering dia lakukan, maka beliau menjawab, “Berpikir dan mengambil pelajaran (darinya).”

g.    Berdzikir kepada Allah Ta’ala.
Allah Ta’ala berfirman, “Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. Az-Zukhruf: 36)
Dan Allah   berfirman, “Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?” Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.” (QS. Thaha: 124-126)
Dan Allah berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Beberapa hal diatas adalah sedikit dari hal-hal sederhana yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan. Hal-hal sederhana sebagai bahan introspeksi kita sekaligus sebagai bahan dan sarana kita untuk menjadikan diri ini manusia yang lebih baik lagi.

Jadi, apakah kita sudah cukup mengenal diri kita? Apakah kita sudah mengetahui bagaimana kondisi diri ini dalam pandangan Allah Azza wa Jalla?

Sudah sanggupkah kita menilai diri kita sendiri? Sudah cukupkah kita bertanya pada diri kita sendiri,

Who am I?
--------------------------------------------------------------------------------------------------------


Reference :
www.muslim.or.id
www.muslimafiyah.com
www.al-atsariyyah.com

No comments:

Post a Comment